Bukan Siapa – siapa tanpa Bidikmisi 

dibuat untuk mengikuti: Lomba cerita inspiratif Gebyar Mahasiswa Bidikmisi Nusantara 2020 di Universitas Lampung 

 Dibuat oleh: 
Wahyu Kristiando 

UNIVERSITAS NEGERI PADANG PADANG 2020


Bukan Siapa–siapa tanpa Bidikmisi 
 Wahyu Kristiando_Universitas Negeri Padang

     Aku lahir dari keluarga jawa tulen dibawah langit dan diatas bumi minang, disebuah daerah bernama kecamatan silaut,kabupaten pesisir selatan Sumatera Barat. Daerah kecil yang didalamnya terdapat 2 perbadaan kebudayaan yang begitu kental, antara masyarakat transmigrasi jawa dan penduduk minang asli. Pada tanggal 28 juli 1998 di tuliskan sebagai hari kelahiranku, Aku Wahyu Kristiando yang kerap disapa wahyu, anak dari sepasang suami istri Sujiman dan Nukiati, adik dari Devi melisa dan menjadi kakak dari Novitri Rahmawati. Sebagai keluarga transmigrasi kehidupan ekonomiku sudah baik,berkat kebaikan hati bapak soeharto yang membekali setiap keluarga transmigrasi dengan dua hektar lahan kosong yang bisa disulap menjadi perkebunan.
      Masa kecilku rasanya begitu membahagiakan sebelum aku menyadari bahwa keluargaku sedang tidak baik-baik saja, aku mulai paham ada pertengkaran- pertengkaran kecil diantara percakapan ayah dan ibu yang ternyata pokok permasahannya adalah hutang. Aku tidak tahu berapa jumlah hutang yang ditanggung keluargaku hanya saja pada saat itu ibuku mulai berjualan lontong sayur kecil-kecilan di Sekolah Dasar. Ayahku yang biasanya tidak pernah kerja lembur kini selalu pulang larut malam, dan kerja keras mereka tidak bisa menutupi hutang-hutang mereka Akhirnya kami pindah rumah, tepatnya menumpang di rumah nenek. Hewan ternak, rumah dan tanah terjual yang sekarang aku tau dari penejelasan ibu semua mereka lakukan memang untuk menutupi hutang keluarga kami. Pindahnya keluargaku ke rumah nenek memang membuat kelaurgaku kurang baik dalam segi ekonomi. Pekerjaan ayahku serabutan, terkadang beliau dapat pekerjaan tetapi kerap kali terpaksa menganggur dan dibantu ibuku yang berjuaalan. 
     Aku masuk Sekolah Dasar pada usia 7 tahun di SD 14 Pasar Malintang. Sekolah membuat kebahagianku kembali lagi, karena guru-guruku bilang aku anak yang pandai dan hal yang semakin membuatku senang ketika aku berhasil mendapatkan gelar juara satu di tahun pertama sekolah. Aku bisa mendapatkannya karena memang kalau soal belajar ayahku begitu tegas dan bisa dibilang keras. Tidak jarang penggaris melayang keras di jari dan tanganku ketika aku tidak berhasil mengerjakan tugas sekolah dengan baik,walaupun begitu aku tidak pernah kehilangan semangat. Di sekolah sering kali aku mendapat bantuan alat tulis, tas bahkan pakain sekolah yang membuatku semakin semangat sekolah. Aku juga sempat mengikuti olimpiade IPA di tingkat kecamatan dan berhenti di tingkat kabupaten. Ketika masuk SMP keluargaku semakin susah untuk membiayai uang pendidikanku, karena selain uang saku, sekolah juga menuntut uang komite yang pada waktu itu jumlahnya cukup memberatkan, tetapi Alhamdulilah orang tuaku masih bisa membayarnya meskipun dengan cara gali lubang tutup lubang. 
     Jarak antara sekolah dengan rumahku hampir 2 kilometer dan setiap pagi aku tempuh dengan berjalan kaki bersama dua orang teman seperjuanganku Novita dan Meli begitu aku memanggilnya. Kami punya jalan tikus sendiri agar cepat sampai kesekolah namun dengan resiko kami akan melalui perkebunan sawit sepanjang jalan. Sebenarnya bukan permasalahan jika pada saat itu tidak musim hujan, tetapi jika musim hujan tiba aku dan temanku terpaksa harus melepas alas kaki dan menjijingnya karena jalan yang kita lewati selalu digenangi air hingga mata kaki. Aku tak pernah patah semangat karena teman temanku selalu menghadirkan canda tawa di setiap perjalanan kami menuju sekolah, bahkan kami bisa berbagi cerita disetiap pagi. 
      Di SMP aku dipercaya oleh rekan – rekan menjadi ketua OSIS di SMP, gelar yang cukup disegani di sekolah. Memasuki jenjang SMA, aku sempat menoreh prestasi dengan mengikuti olimpiade Tekhnologi Informatika dan mengikuti lomba debat bahasa inggris di tingkat kecamatan yang hasilnya cukup memuaskan. Namun, masa itu ibuku sakit, beliau memang punya riwayat lemah jantung dan lambung kronis. Lemah jantung beliau kambuh saat malam lebaran tiba salah satu tetangga kami menyalakan petasan yang begitu keras, dan ketika itu ibuku pinsan tidak sadarkan diri. Semenjak kejadian itu kondisi kesehatan ibu seringkali menurun, beberapa kali kami harus menebus obat yang harganya tidak murah. Menghadapi hal ini aku harus membantu ayah memenuhi kebutuhan sehar-hari, sebelum berangkat sekolah aku bersama ibu memebungkus beberapa bungkus lontong dan pical untuk aku tawarkan sebagai menu sarapan ke teman-temanku, selain itu aku juga berjualan pena dan alat tulis lain, Alhamdulilah uang keuntungannya dapat mencukupi untuk uang jajanku sendiri setidaknya. Sepulang sekolah biasanya aku mencari biji sawit yang tercecer di kebun – kebun orang lain yang aku kumpulkan dan aku jual pada toke sawit dan hasilnya untuk membantu ayah mecukupi kebutuhan keluarga. 
     Masuk di perguruan tinggi merupakan mimpi besar bagi anak kampung sepertiku, meskipun ibu bilang dengan nada yang mungkin sedikit kecewa dengan keadaan, “Le, adikmu sekarang mau masuk SMP, kalau kamu mau meneruskan kuliah,bapak ibumu tidak mampu,kamu mengalah dulu ya” kata beliau dengan raut wajah yang berusaha tegar dan tak ingin mengecewakanku. Namun dengan kata-kata tersebut justru semangatku untuk kuliah semakin besar, karena keinginanku untuk membahagiakan kedua orang tua dan mengangkat derajat mereka di masyarakat. Sehingga aku berusaha keras untuk kuliah dengan uangku sendiri tanpa membebani ayah dan ibu. 
     Beberapa pekerjaan sempat aku jalani di masa akhir –akhir sekolah SMA, berjualan, narik ojek, membantu pekerjaan rumah guru -guruku, mengajar les anak –anak. Namun semua itu belum cukup untuk biaya kuliah yang angkanya begitu banyak bagiku. Aku hampir menyerah untuk kuliah sampai pada akhirnya ada informasi mengenai beasiswa untuk masuk perguruan tinggi, beasiswa Bidikmisi, dan informasi tersebut disampaikan secara jelas oleh guruku yang sebelumnya beliau juga mahasiswa Bidikmisi. Aku sangat berminat sekali dengan beasiswa tersebut, sepulang sekolah aku sampaikan hal ini kepada ibuku, “bu, aku bisa kuliah gratis bu, ada beasiswa untuk anak kuliah namanya Bidikmisi”, aku tau dari raut wajah ibuku beliau bingung, namun aku berusaha meyakinkan beliau bahwa dengan Bidikmisi bukan hanya gratis kuliah tetapi biaya hidup juga diberi. Ibu kemudian berkata “Le, Kalau memang kamu nanti lulus Bidikmisi kamu bisa kuliah, ibu mampu kasih uang saku, tapi jika tidak kamu bisa ngganggur dulu ya le”, setelah percakapan dengan ibu aku semakin semangat saja melengakapi persyaratan masuk PTN dan mendaftar Bidikmisi. 
     Menunggu hari pengumuman masuk PTN melalui jalur Bidikmisi, membuat perasaanku tidak karuan, do’a selalu kupanjatkan kepada Tuhan, mungkinkah anak kampung sepertiku bisa mewujudkan mimpinya masuk ke perguruan tinggi. Ketika hari pengumuman kelulusan PTN tiba aku pergi ke warung internet untuk melihat hasilnya dan betapa senang hatiku dengan izin Tuhan Yang Maha Esa ketika aku mengetahui bahwa aku lulus di Universitas Negeri Padang, dengan prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Singkat cerita aku pergi ke Padang untuk melakukan verifikasi PTN, ini pengalaman pertamaku pergi jauh dari kampung, pengalaman yang luar biasa. Aku menginap di masjid karena waktu itu masih bingung arah dan tujuan. Alhamdulilah dengan ridho Allah semua urusan diberi kelancaran. Seiring dengan itu aku mendapati informasu bahwa aku lulus Bidikmisi, seperti mimpi yang jadi kenyataan aku bisa kuliah di PTN tanpa biaya dan tanpa membani orang tua. Suasana haru dalam diriku membuat air mataku mulai menetes, karena aku tau walaupun sudah dinyatakan lulus PTN jika tidak lulus beasiswa Bidikmisi maka semua itu sia –sia. 
     Sekarang mimpi sudah di depan mata dan menjadi nyata, aku menjadi seorang mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Padang. Alhamdulilah dalam perkuliahan kesempatan tidak aku sia –siakan,aku memperoleh IPK 3,5 dan tidak hanya itu semangat berkumpul dan berorganisasi aku salurkan dengan ikut terlibat dalam beberapa organisasi.Organisasi yang pernah dan sedang aku jalani sekarang diantaranya HIMA PGSD UPP III FIP KM UNP, sebagai anggota kominfo, di Forum Studi Islam sebagai anggota Biro Pengembangan Anggota, dan pada tahun 2019 sebagai Wakil Ketua Umum Ikatan Keluarga Bidikmisi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri padang serta Ahamdulilah atas izin Allah dengan amanah dari rekan –rekan Bidikmisi aku terpilih menjadi ketua umum Ikatan Keluaga Bidikmisi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri padang. 
     Terimaksih kepada Bidikmisi yang telah memberikan kesempatan kepada anak kampung yang bukan siapa –siapa, yang kini sedang melanjutkan mimpi besarnya menjadi pendidik generasi bangsa. Aku menyadari setiap perjalanan manusisa tidaklah sama, aku yakin perjalanan dan perjuanganku bukanlah apa –apa dibandingkan dengan teman teman seperjuangan diluar sana. Salam Bidikmisi Salam Prestasi.

<script data-ad-client="ca-pub-4044462051783103" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Biodata Penulis Nama       : Wahyu Kristiando 
Tempat/Tanggal lahir        : Silaut, 28 Juli 1998 
Jurusan                              : Pendidikan Guru Sekolah Dasar 
Fakultas                             : Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas                        : Universitas Negeri Padang 
Alamat                          : -Perumahan Unand Blok D II -Nagari durian seribu, kec. Silaut, kab. Pesisir                                           Selatan,
Sumbar Email    : Wahyu17Kristiando17@gmail.com 
No Hp                              : 0817 6620 375

Komentar

Postingan populer dari blog ini

konsep dasar ips "sosiologi" resume

Pasti Kaku Blog Pertama.Gini Nih!