cindua mato kaba #KRISTIAHERA



Kata pengantar
        Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah CINDO MATO dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

       Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

       Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Penyusun   








BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Tujuan Laporan
            Tujuan pembuatan laporan ini adalah sebagai berikut:
1.      Memenuhi tugas Budaya Alam Minangkabau (BAM).
2.      Menentukan tema dari sebuah karya sastra prosa Minangkabau.
3.      Mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya.
4.      Mengambil amanat yang terkandung di dalamnya.
5.      Menirukan watak yang baik dari pelaku. 
I.2. Sistematika Laporan      
            Laporan ini disusun dengan urutan sistematika sebagai berikut:


    Bab   I. Pendahuluan
                  I.1. Tujuan Laporan
                  I.2. latar belakang
     Bab II. Pembahasan
                 II.1. Ringkasan Kaba
                  II.2. Pelaku dan Peranannya
                  II.3. Peristiwa dan Penyebabnya
                  II.4. Tema dan Dasarnya/alasannya
    
    Bab III. Penutup
                  III.1. Kesimpulan
                  III.2. Saran 
Bab ll
PEMBAHASAN
ll.1.Ringkasan Kaba Cindua Mato
            Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang ratu bernama Bundo Kanduang, yang konon diciptakan bersamaan dengan alam semesta ini (samo tajadi jo alamko). Dia adalah timpalan Raja Rum, Raja Tiongkok dan Raja dari Laut. Suatu hari Bundo Kanduang menyuruh Kembang Bendahari, seorang dayangnya yang setia, untuk membangunkan putranya Dang Tuanku, yang sedang tidur di anjungan istana. Kembang Bendahari menolak, karena Dang Tuanku adalah Raja Alam, orang yang sakti. Bundo Kanduang lalu membangunkan sendiri Dang Tuanku, dan berkata bahwa Bendahara sedang mengadakan gelanggang di nagarinya Sungai Tarab, untuk memilih suami buat putrinya. Karena gelanggang tersebut akan dikunjungi banyak pangeran, marah dan sutan, dan putra-putra orang-orang terpandang, Dang Tuanku dan Cindua Mato seharusnya ikut serta di dalamnya. Bundo Kanduang memerintahkan Dang Tuanku untuk menanyakan apakah Bendahara akan menerima Cindua Mato sebagai suami dari putrinya, Puti Lenggo Geni. Setelah menerima pengajaran tentang adat Minangkabau dari Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan para pengiringnya berangkat ke Sungai Tarab.
               Di Sungai Tarab mereka disambut oleh Bendahara. Dang Tuanku bertanya apakah Bendahara bersedia menerima Cindua Mato yang “bodoh dan miskin” sebagai menantunya. Sebenarnya Cindua Mato adalah calon menantu ideal, dan karena itu lamaran tersebut diterima. Dang Tuanku kemudian berbincang-bincang dengan Bendahara, yang merupakan ahli adat di dalam Basa Ampek Balai, membahas adat Minangkabau dan apakah telah terjadi perubahan dari adat nenek moyang. Menurut Bendahara prinsip-prinsip yang diwariskan dari perumus adat Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang tetap tak berubah.

<script data-ad-client="ca-pub-4044462051783103" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
               Sementara itu Cindua Mato mendengar pergunjingan di pasar bahwa Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku, akan dinikahkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, sebuah negeri di rantau timur Minangkabau. Menurut kabar itu, di sana tersebar berita bahwa Dang Tuanku diasingkan karena menderita penyakit. Puti Bungsu adalah putri Rajo Mudo, saudara Bundo Kanduang, yang memerintah sebagai wakil Pagaruyung di Ranah Sikalawi, tetangga Sungai Ngiang. Ketika menemukan bahwa cerita ini disebarkan oleh kaki tangan Imbang Jayo, Cindua Mato bergegas mendesak Dang Tuanku untuk meminta permisi pada Bendahara dan kembali ke Pagaruyung. Gunjingan seperti itu adalah hinaan kepada Raja Alam.
Di Pagaruyung Cindua Mato menceritakan Dang Tuanku dan Bundo Kanduang apa yang didengarnya di pasar. Bundo Kanduang naik pitam, namun sebelum bertindak dia mesti berunding dulu dengan Basa Ampek Balai. Dalam rapat-rapat berikutnya para menteri tersebut berusaha menengahi Bundo Kanduang pada satu pihak, yang tak dapat menerima hinaan dari saudaranya, dan Dang Tuanku beserta Cindua Mato pada pihak lain, yang menganjurkan kesabaran. Pertemuan tersebut berakhir dengan kesepakatan bahwa Cindua Mato akan berangkat sebagai utusan Bundo Kanduang dan Dang Tuanku ke Sikalawi, dengan membawa Sibinuang, seekor kerbau sakti, sebagai mas kimpoi untuk Puti Bungsu.
                  Dengan menunggang kuda sakti, Si Gumarang, dan ditemani kerbau sakti, Si Binuang, Cindua Mato berjalan menuju Ranah Sikalawi. Di perbatasan sebelah timur, di dekat Bukit Tambun Tulang, dia menemukan tengkorak-tengkorak berserakan. Setelah membacakan jampi-jampi, dan berkat tuah Dang Tuanku, tengkorak-tengkorak tersebut mampu menceritakan kisah mereka. Mereka sebelumnya adalah para pedagang yang bepergian melalui bukit Tambun Tulang dan dibunuh para penyamun. Mereka mendesak Cindua Mato untuk berbalik dan kembali, namun Cindua Mato menolak. Tak lama sesudahnya para penyamun menyerang, namun dengan bantuan Si Binuang, ia berhasil mengalahkan mereka. Para penyamun tersebut mengaku bahwa Imbang Jayo, raja Sungai Ngiang, mempekerjakan mereka tak hanya buat memperkaya dirinya, tetapi juga untuk memutus hubungan antara Pagaruyung dan Rantau Timur, dan dengan demikian melempangkan rencananya untuk mengawini Puti Bungsu.
                Kedatangan Cindua Mato menggembirakan keluarga Rajo Mudo, yang berduka mendengar kabar penyakit Dang Tuanku. Kehadiran Cindua Mato dianggap sebagai pertanda restu Bundo Kanduang atas perkimpoian yang hendak dilangsungkan.
                Dengan berpura-pura kesurupan Cindua Mato berhasil bertemu empat mata dengan Puti Bungsu tanpa memancing kecurigaan keluarga Rajo Mudo. Mereka percaya hanya Puti Bungsu saja yang mampu menenangkannya. Cindua Mato bertutur pada Puti Bungsu bahwa Dang Tuanku mengirimnya untuk membawanya ke Pagaruyung, karena ia sudah ditakdirkan untuk menikah dengan Dang Tuanku. Dalam pesta perkimpoian yang berlangsung, saat Imbang Jayo tengah berperan sebagai pengantin pria, Cindua Mato melakukan hal-hal ajaib yang menarik perhatian lain dan menculik Puti Bungsu. Cindua Mato membawanya ke Padang Ganting, tempat Tuan Kadi, anggota Basa Ampek Balai yang mengurus soal-soal keagamaan bersemayam.
               Dengan menculik Puti Bungsu Cindua Mato telah melanggar hukum dan melampaui wewenangnya sebagai utusan Pagaruyung. Tuan Kadi lalu memanggil anggota Basa Ampek Balai lainnya untuk membahas pelanggaran yang dilakukan Cindua Mato. Namun pada pertemuan yang diadakan Cindua Mato menolak menjelaskan perbuatannya.
                 Basa Ampek Balai lalu menceritakan kejadian ini pada Bundo Kanduang, yang murka pada kelakuan Cindua Mato. Namun ia masih tetap menolak menjawab. Keempat menteri ini lalu memutuskan berunding dengan Raja Nan Duo Selo, Raja Adat dan Raja Ibadat. Keduanya, mengetahui latar belakang kejadian tersebut, sambil tersenyum menyuruh keempat menteri tersebut menyerahkan keputusan kepada Dang Tuanku, Raja Alam.
                 Pada pertemuan berikutnya perdebatan terjadi antara Bundo Kanduang, yang berteguh mempertahankan adat raja-raja, dan Dang Tuanku, yang menganjurkan memeriksa alasan di balik tindakan Cindua Mato. Imbang Jayo telah menghina Dang Tuanku dengan berusaha mengawini tunangannya, dan menceritakan fitnah. Sekarang giliran Imbang Jayo buat dihina. Imbang Jayo juga mempekerjakan penyamun untuk memperkaya dirinya dan memutus hubungan antara Minangkabau dan rantau timurnya. Cindua Mato tak layak dihukum karena dia hanya alat untuk utang malu dibayar malu.
                  Cindua Mato dilepaskan dari hukuman, dan rapat itu kemudian membahas perkimpoian antara Cindua Mato dan Puti Lenggo Geni, dan juga antara Dang Tuanku dan Puti Bungsu. Setelah masa persiapan, perkimpoian kerajaan tersebut dilangsungkan di Pagaruyung, dilanjutkan dengan pesta yang dihadiri oleh banyak pangeran dan raja dari segenap penjuru Pulau Perca.
                 Sementara itu, Imbang Jayo yang merasa dipermalukan oleh Cindua Mato bersiap-siap menyerang Pagaruyung. Dengan senjata pusakanya, Cermin Terus (camin taruih), dia menghancurkan sebagian negeri Pagaruyung. Cermin itu akhirnya dipecahkan oleh panah sakti Cindua Mato. Ketika Imbang Jayo sibuk memperkuat pasukannya Bundo Kanduang dan Dang Tuanku meminta Cindua Mato mengungsi ke Inderapura, negeri di rantau Barat, dan dengan demikian tidak ada alasan lagi buat Imbang Jayo memerangi Pagaruyung.
                 Geram karena gagal membalas dendam, Imbang Jayo lalu protes pada Rajo Nan Duo Selo. Pada pertemuan yang dipimpin oleh kedua raja tersebut, dan dihadiri oleh keempat menteri, Imbang Jayo mendakwa bahwa seorang anggota keluarga kerajaan telah mempermalukan dirinya, sebuah pelanggaran yang tak termaafkan. Namun raja-raja tersebut bertanya: siapa yang memulai penghinaan tersebut, apa bukti dakwaan Imbang Jayo? Tuduhan terhadap anggota kerajaan tanpa bukti cukup bukan soal main-main. Kedua raja akhirnya memutuskan Imbang Jayo dihukum mati.
                  Begitu mengetahui anaknya disuruh bunuh oleh Rajo Duo Selo, ayah Imbang Jayo, Tiang Bungkuak, bersiap-siap membalas dendam. Cindua Mato kembali dari Inderapura, dan Dang Tuanku memerintahkannya melawan Tiang Bungkuak. Namun bila Cindua Mato gagal membunuhnya, dia harus bersedia menjadi hamba Tiang Bungkuak, agar Istana Pagaruyung terlepas dari ancaman.
                   Pada suatu malam, saat menunggu serangan Tiang Bungkuak, Dang Tuanku bermimpi bertemu seorang malaikat dari langit yang berkata dia, Bundo Kanduang dan Puti Bungsu sudah waktunya meninggalkan dunia yang penuh dosa ini. Pagi harinya Dang Tuanku mengisahkan mimpinya pada Bundo Kanduang dan Basa Ampek Balai. Mengetahui waktu mereka sudah dekat, mereka mengangkat Cindua Mato sebagai Raja Muda.
Cindua Mato menunggu Tiang Bungkuak di luar Pagaruyung, namun dalam duel yang berlangsung dia tak mampu membunuh Tiang Bungkuak. Cindua Mato lalu menyerah pada kesatria tua itu, dan mengikutinya ke Sungai Ngiang sebagai budak. Pada saat yang sama sebuah kapal terlihat melayang di udara membawa Dang Tuanku dan anggota keluarga kerajaan lainnya ke langit.
                 Suatu hari, ketika Tiang Bungkuak sedang tidur siang, Cindua Mato membaca jampi-jampi dan berhasil mengungkap rahasia kekebalan Tiang Bungkuak dari mulutnya sendiri. Ternyata Tiang Bungkuak hanya dapat dibunuh menggunakan keris bungkuk (karih bungkuak) yang disembunyikan di bawah tiang utama rumahnya. Cindua Mato mencuri keris itu lalu memancing Tiang Bungkuak agar berkelahi dengannya. Dalam duel tersebut Cindua Mato berhasil membunuh Tiang Bungkuak dengan keris curiannya.
                Setelah kematian Tiang Bungkuak para bangsawan Sungai Ngiang mengangkat Cindua Mato menjadi raja. Kemudian dia juga diangkat sebagai raja Sikalawi, setelah Rajo Mudo turun tahta. Cindua Mato menikahi adik Puti Bungsu, Puti Reno Bulan. Dari hasil pernikahannya ini Cindua Mato memperoleh anak perempuan dan laki-laki yang diberi nama Sutan Lembang Alam.
                Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di Rantau Timur, Cindua Mato kembali ke Pagaruyung, untuk memerintah sebagai Raja Minangkabau. Dari perkimpoiannya dengan Puti Lenggo Geni ia mendapatkan anak bernama Sutan Lenggang Alam.



.ll.2.  Pelaku dan Peranannya
     1) Cindua Mato memiliki nama asli Bunjang Kacinduan, ia adalah saudara seayah dengan Dang Tuanku. Cindua Mato berperan sebagai lion atau disebut juga dengan istilah protagonis. Cindua Mato memIliki karakter pemberani dan mau melakukan apa saja demi mempertahan kajayaan kerajaan Pagaruyung.
     2) Dang Tuanku adalah raja Pagaruyung, putra Bundo Kandung. Dang Tuanku berperan sebagai lion. Ia telah dijodohakn dengan Puti Bungsu. Dang Tuanku memiliki karakter pengecut, dan tidak berani berperang dan cepat marah. Karakter cepat marah yang dimiliki oleh Dang Tuanku dapat dilihat dari kutipan berikut:  Dang Tuanku : Rambutnya tidak boleh disentuh  hiasan pengantin! Di harus dijemput dan dibawa ke sini! Cindua Mato siapkan perang kita. (Cindua Mato, 1976: 260).
     3) Bundo Kandung adalah ratu Pagaruyung, ibu dari Dang Tuanku. Bundo Kandung berperan sebagai lion. Ia memiliki sifat cepat marah dan manuruti semua perkataan Basa Ampek Balai.
     4) Puti Bungsu adalah tunangan Dang Tuanku. Puti Bungsu berperan sebagai sun. ia memiliki sifat patuh terhadap orang tuanya.
     5) Imbang Jaya berperan sebagai mars. Ia memiliki karakter serakah yang suka merebut hak milik orang lain.
     6) Tiang Bungkuk adalah ayah dari Imbang Jaya. Tiang Bungkuk berperan sebagai earth. Ia memiliki karakter kuat dan memiliki kesaktian yang luar biasa.
    7) Datuak Indomo adalah Basa Ampek Balai dalam kerajaan yang berperan sebagai scale. Ia memiliki karakter penakut.
    8) Datuak Mahkudun berperan sebagai scale dan memiliki karakter penakut.
    9) Datuak Bandaro adalah Basa Ampek Balai yang berperan sebagai scale. Ia memliki karakter penakut.
   10) Tuan Kadi adalah Basa Ampek Balai yang berperan sebagai scale. Ia memiliki karakter penakut, mudah curiga dan selalu berlindung di bawah nama besar Bundo Kandung.
   11) Dubalang berperan sebagai moon. Ia memiliki sifat setia dan patuh  terhadap perintah yang ditujukan kepadanya.
   12) Dayang berperan sebagai moon. Ia memiliki karakter patuh terhdap perintah.
   13) Pendendang berperan sebagai moon. Ia memiliki karakter baik.


II.3.Peristiwa dan Penyebabnya
      Direbutnya tunangan Dang Tuanku oleh Imbang Jaya. Peristiwa yang terjadi adalah terbunuhnya Imbang Jaya oleh Tuan Kadi. Konflik yang terjadi adalah adanya motif balas dendam Tiang Bungkuk atas kematian anaknya Imbang Jaya, hingga akhirnya Tiang Bungkuk kalah dalam perperangan melawan pasukan yang dipimpin oleh Cindua Mato.

II.4.  Tema dan Dasarnya
Tema :
Keberanian Cindua Mato dalam membela kebenaran
Dasarnya:
Cindua mato yang pemberani berhasil memenangkan perang
BAB III
PENUTUP
III.1.  Kesimpulan
Jadilah orang yang bijaksana,jangan pernah rebut hak orang lain dan brjuanglah
III.2. Saran
 (a).janganlah merebut hak milik orang lain
 (b) janganlah melibatkan rakyat atas kepentingan pribadi
 (c) janganlah menuduh dan menaruh curiga terhadap orang lain.
 (d) janganlah menyimpan dendam terhadap orang lain.

DAFTAR PUSTAKA
asanuddin WS. 1996. Drama Karya dalam Dua Dimensi Kajian Teori, Sejarah Dan Analisis.     Bandung: Angkasa. (di akses pada tanggal 14 Juni 2015)
Hadi, Wisran. 2000. “Cindua Mato” dalam Empat Sandiwara Orang Melayu. Bandung:    Angkasa. (di akses pada tanggal 14 Juni 2015)

Aplikasi penghasil pulsa, download : https://browser.mcent.com/r/mvlBkyUpRoClC-MHXSgLPg

     Ketik alamat di atas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

konsep dasar ips "sosiologi" resume

Pasti Kaku Blog Pertama.Gini Nih!